Hai!

Welcome to the new me, on my old blog! why could i say it’s a new me? because somehow, i could make my days through some words-which quoted from someone-in my new year’s greeting to my friends;

…..”and i hope, somewhere in the next year, you surprise yourself.”

here, on the fourth month of 2011, i was surprised by the news telling me that i could be participate in Indonesia Mengajar . I’m going to start training on 25th April, and will be sent to remote area, somewhere in west or east Indonesia, to become a teacher. far? never measure it from home, where i live for these 23 years. wasting time? if one second could make a change, imagine how a year can make a positive one. a brave decision? never been there, so i have to try. i realize that it’s never be easy, but i believe it will always be valuable.

Ok. kini saatnya bicara dalam bahasa ibu. 😀
Saya tahu program ini dari 2 teman baik, juga dari forum yang asyik dan mencerahkan Obsat Di sana, Pak Anies Baswedan -tokoh inspiratif dan pemberani- sendiri yang bercerita tentang gerakan yang luar biasa menarik ini. Beliau lebih suka menyebutnya gerakan, karena mendidik adalah kewajiban setiap orang, dan menjadi bangsa yang terdidik adalah hak bangsa ini, seperti yang tercantum dalam janji kemerdekaan. Gerakan Indonesia Mengajar mengajak orang-orang peduli dan berpatisipasi,walau sekecil apapun, untuk ikut menepati janji kemerdekaan. Saya sangat optimis dan masih memiliki harapan yang besar terhadap generasi ini, yang harus bisa cerdas, produktif, jujur dan memiliki daya juang. saya tergerak untuk ikut berkontibusi, dengan dua tangan sendiri, mengisi apapun yang bisa saya lakukan, untuk Indonesia yang lebih baik. Tidak mau terdengar klise, saya mendaftar gerakan ini. Alhamdulillah, Allah maha Tinggi membukakan pintu untuk mulai melangkah. Saya percaya dengan membantu orang lain, kita bisa menemukan diri kita. Apalagi dengan mengajar atau mentransfer sesuatu yang sifatnya long-lasting, yang diyakini Bpk Khairul Ummah sebagai hobi yangh bersifat ‘bless twice’, membawa manfaat sekaligus kesenangan bagi pihak yang diajar maupun yang mengajar. Belajar sambil mengajar adalah prinsip we are building the sail while we are sailing. Generasi ini tidak boleh cepat puas atau malah mudah menyerah. Tapi kita harus tetap tegak dan berjuang!

Berpisah dengan orang tua, keluarga dan teman-teman terdekat untuk waktu yang cukup lama adalah hal yang sama sekali baru buat saya, tapi saya tahu mereka pun ikhlas dan mendukung saya seutuhnya. Boleh dibilang, saya tipikal calon penerima Oscar, yang siap berterima kasih dan menyebutkan nama orang-orang penting dalam langkah dan keberhasilan saya. Sebelum saya pergi; orang tua dan adik-adik, teman-teman Dosen (lebih suka disebut geng piknik ^^,), teman2 terdekat dari kecil-remaja, para mahasiswa, Tim Indonesia Mengajar, serta someone special, begitu bersemangat dan berbangga hati terhadap saya. Mereka membekali saya dengan seluruh hal yang saya butuhkan; moriil hingga materiil, peralatan serta pelukan. Saya bersyukur memiliki mereka. Saya bertekad tidak ingin mengecewakan siapapun, maka saya harus membawa serta semangat orang-orang tersayang ke tempat tujuan, lalu kembali dengan segudang ilmu dan pengalaman.

Ya Allah, izinkan saya menjadi dan menemukan milagro pequenokeajaiban kecil, dengan berusaha menambah satu pelangi lagi. Semoga.. 🙂